Archive for the ‘Komunikasi’ Category

Lima Terlalu Sedikit, Sepuluh Terlalu Banyak

Saat TVRI tampil sebagai satu-satunya saluran televisi, banyak orang menganggap itu tak demokratis. Lantas muncullah RCTI (1989), SCTV (1990), TPI (1991), Anteve (1994), dan Indosiar (1995). Lima stasiun televisi swasta ini bisa mengudara memang didukung oleh faktor dekatnya sang pendiri dengan kekuasaan, sebagaimana lazimnya bisnis pada masa Orde Baru dengan Soeharto sebagai Big Boss-nya, dan Cendana sebagai “bau”nya.

RCTI dimiliki oleh Grup Bimantara (ada Bambang Trihatmojo di sana). TPI – kita semua tahu – didirikan oleh Siti “Tutut” Hardiyanti Rukmana. SCTV juga “berbau” Cendana, dengan pendiri seperti Sudwikatmono, Peter F. Gontha, Henry Pribadi, Halimah Bambang Triatmodjo, dan Azis Mochtar. Anteve milik Aburizal Bakrie, sedangkan Indosiar dikuasai Anthony Salim.

Era Reformasi kembali menumbuhkan lima televisi swasta nasional baru, di samping ada kebijakan untuk memberikan ijin bagi munculnya televisi lokal di daerah-daerah. Lantas mengudaralah secara nasional Metro TV, Global TV, Trans TV, TV7, dan Lativi.

Selanjutnya

Advertisements

Mendengar Koran, Menonton Radio, Membaca Televisi

Selalu saja berita duka. Selalu saja bencana. Apakah negeri ini memang ditakdirkan demikian? Semoga saja tidak. Tapi mengapa berita duka dan bencana yang selalu menghiasi koran, radio, dan televisi? Jika bukan alam yang membuat duka, manusianyalah yang membuat bencana. Jika alam membuat gempa bumi, banjir, longsor, tsunami, angin ribut, dan kawan-lawannya, manusia tak mau kalah menciptakan kerusuhan, pertikaian, peperangan, keributan, kelaparan, pembunuhan, korupsi, dan teman-temannya.

Apakah tidak ada waktu sejenak untuk berdamai? Berdamai dengan alam, berdamai dengan sesama? Tidak bosankah kita untuk terus hidup seakan berada di “negeri bencana” ini? Rasa-rasanya tak ada yang ingin untuk terus dalam situasi ini.

Negeri ini kaya. Negeri ini indah. Negeri ini makmur. Jika dan hanya jika kita mau dan mampu membuatnya demikian. Itulah sebenarnya yang selalu didambakan, oleh kita dan oleh orang-orang sebelum kita, para pendiri republik ini. Maka hadirlah slogan dan julukan Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kerta Raharja, Bhinneka Tunggal Ika, Zamrud Khatulistiwa, dan lain-lainnya. Apakah slogan itu kini hanya tinggal sekedar slogan saja?

Selamat hari Nyepi dan Tahun Baru Saka 1930. Shanti, shanti, shanti (damai, damai, damai). Dan semoga damai itu selalu ada bersama kita…