Rokok Haram?

Haramkah rokok? MUI bermaksud mengeluarkan fatwa untuk mengharamkan rokok, atas masukan dari beberapa pihak. Kira-kira bisa tidak ya, “manusia Indonesia” hidup tanpa asap tembakau?

Padahal setahu saya, ada beberapa ciri “manusia Indonesia” yang terkait dengan kebiasaan merokok. Antara lain, orang Indonesia itu merasa kurang lengkap jika setelah makan tidak ditutup dengan prosesi merokok. Beberapa teman saya bahkan tidak afdol jika (maaf) buang air besar tidak sembari merokok. Juga ada sebagian teman yang otaknya tumpul jika tidak melakukan pekerjaannya sambil merokok. “Jadi ga kreatif gua, ga bisa mikir” katanya. Entah apa hubungan antara kreatifitas dengan asap rokok.

Intinya, saya agak sukar membayangkan jika tiba-tiba di tanah air ini rokok jadi barang haram. Logikanya, barang haram tentu mengandung konsekuensi hukum bagi mereka yang memiliki, mengkonsumsi, mengedarkan, dan atau memproduksinya.

Berapa banyak teman saya yang bakal ditangkap polisi karena memiliki dan mengkonsumsi “barang haram” tersebut? Berapa banyak pedagang asongan dan pemilik warung-warung kecil yang omsetnya sebagian besar disumbang dari penjualan rokok akan diinterogasi pihak yang berwajib dengan tuduhan mengedarkan “barang haram” tersebut? Juga berapa banyak petani tembakau dan cengkeh serta pekerja pabrik rokok yang tiba-tiba jadi pengangguran karena pabrik mereka tutup karena melanggar hukum dengan memproduksi “barang haram”?

O iya, jika rokok haram, apa kabar ya nasib orang-orang yang masuk daftar 10 orang terkaya Indonesia seperti Budi Hartono dan Michael Hartono (urutan 3 dan 4; Djarum), Putera Sampoerna (urutan 6; Sampoerna), atau Rachman Halim (urutan 8; Gudang Garam)? Tentunya mereka akan terkena pasal “ikut menikmati hasil kejahatan” dari produksi barang haram bernama rokok itu.

Dunia olahraga dan hiburan Indonesia juga tampaknya akan terkena imbas, menjadi sepi-sunyi-senyap. Siapa yang akan mensponsori event besar olahraga? Siapkah perusahaan lain atau pemerintah mengganti “judul” Djarum Indonesia Super League, Copa Dji Sam Soe, Sampoerna Hijau Voli Proliga, atau Wismilak International Women’s World Tennis Tour? Juga A Mild Live Soundrealine, LA Light Indiefest, atau Gudang Garam Music Festival?

Saya pribadi memang tidak merokok. Bukan pertimbangan karena halal-haramnya rokok, tapi lebih kepada pertimbangan “apa manfaat rokok bagiku?”. Selain merugikan kesehatan (diri sendiri dan orang sekitar), merokok juga ternyata merugikan kantong (sendiri dan orang lain; kalau rokoknya minta:)).

Banyak cara yang lebih elegan dan cerdas untuk mengurangi konsumsi dan dampak rokok terhadap kesehatan. Misalnya, buatlah aturan yang “membatasi”; batasi usia minimal pembeli rokok, batasi tempat untuk membeli rokok, batasi tempat untuk merokok. Kemasan rokok dengan pesan pemerintah “merokok dapat menyebabkan bla..bla..bla..” ternyata sekedar slogan kosong, kurang memberikan dampak psikologis terhadap perokok. Coba dibuat kemasan rokok seperti Marlboro di Thailand ini:

Alternatif lain, mungkin harga rokok perlu dinaikkan. Setidaknya langkah ini akan memberikan “seleksi alam” tersendiri bagi penikmat rokok. Orang akan berpikir seribu kali untuk membeli rokok jika harga rokok dipatok sama dengan harga BBM misalnya. Dan “Orang Miskin pun Dilarang Merokok….”.

Urusan rokok haram atau tidak sebaiknya tidak perlu secara khusus diatur oleh MUI, menurut saya. Cukup upaya penyadaran dan kampanye akan bahaya merokok yang perlu terus digalakkan, tanpa sebuah pemaksaan lewat sebuah fatwa.

Mungkin jika sampai saat ini hasil dari proses penyadaran itu belum terlihat optimal, berarti ada yang salah dengan upaya yang kita lakukan. Bisa jadi kampanye “dilarang merokok” yang ada selama ini masih kurang kreatif, tidak menyentuh, dan kurang greget. Berbanding terbalik dengan kampanye “ayo merokok” buatan produsen rokok yang demikian halus, mengena, dieksekusi dengan penuh kreatifitas, dengan mengoptimalkan berbagai saluran komunikasi yang ada. Bisa dilihat bagaimana promosi dan iklan rokok selalu tampil demikian cerdas dan canggih. Menawarkan kenikmatan, keberanian, kejantanan, petualangan, kebersamaan, eksklusifitas, dan hal-hal yang (justru) positif.

Dan yang terpenting, selain upaya penyadaran, juga diperlukan penegakan hukum atas aturan yang telah ditetapkan. Pernahkah Anda mendengar ada yang sudah terkena denda 50 juta rupiah karena merokok di sembarangan tempat di Jakarta?

Sudah saatnya untuk membuat kebijakan dengan bijak, dan peraturan yang teratur.

2 responses to this post.

  1. Rokok masih dalam perdebatan mengenai haram dan halal dan MUI sendiri belum memutuskanya, karena masih banyak

    pendapat yang berbeda misal MUI Surabaya belum setuju, MUI Jakarta sudah setuju, dan di kalangan anggota dewan DPRD

    memutuskan bahwa Rokok dapat di tarik cukainya oleh Pemerintah Daerah diluar cukai Pusat. jadi kemungkinan harga

    rokok akan naik lagi. dengan cukai ini akan dipakai untuk FULL kesehatan masyarakat, ” JAdi Rokok itu Haram atau

    Tidak” tergantung sudut pandang masing2.
    Bagi sayayang haram itu jelas di sebutkan di Hadist dan Al-Quran, jangan ditambah2 lagi seperti sifat orang Nasrani

    dan yahudi, yang haram jadi halal yang halal jadi Haram. Jadi Roko masih hukumnya Makruh=lebih baik ditinggalkan:

    Seperti hallnya Babi, jika ditanya Babi itu haram kenapa…ooo banyk penyakitnya..ooo banyak mudhoratnya…dll,

    sekali lagi itu pendapat yang SALAH, BABI diharamkan karena=Ada di Al-Quran. TITIK, sami’na wa’atonna. walahuallam

    Reply

  2. Tidak” tergantung sudut pandang masing2.
    Bagi sayayang haram itu jelas di sebutkan di Hadist dan Al-Quran, jangan ditambah2 lagi seperti sifat orang Nasrani dan yahudi, yang haram jadi halal yang halal jadi Haram.
    >>> kenapa ya selalu ada saja orang yang menyikapi suatu masalah dengan mendiskreditkan golongan,ras,keyakinan atau agama lain? disini saya tidak melakukan sebuah pembelaan tetapi jujur saja saya hanya sedih membaca dan mendengarnya..terlepas dari itu semua, kapan ya kita bisa menyikapi sebuah masalah diantara pluralisme yang ada tanpa ‘menjelekkan’ golongan,ras,keyakinan atau agama lain?sebegitubencikah kita dengan orang yang berbeda dengan ras,golongan,suku ataupun keyakinan kita? sampai kapan kita akan terkungkung didalam pemahaman dan penyelesaian dengan perspektif satu sisi saja? correct me if i’m wrong..saya hanya ingin belajar untuk menyikapi artinya perbedaan dari berbagai sisi dan perspektif…trims dan saya suka sekali dengan blog anda..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: