Konsisten untuk Tidak Konsisten (2)

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali menerima “surat cinta” dari PLN. Isinya, pemberitahuan pemadaman bergilir untuk bulan Agustus ini. Ini kali kedua jadwal giliran mati lampu ini saya terima, setelah yang pertama saya terima bulan Juni lalu.

Mungkin ini imbas dari saya yang dulu pernah ngedumel ke PLN karena sering kali tiba-tiba tanpa pemberitahuan, listrik di tempat saya padam. Pemberitahuan ini saya pikir sebagai langkah yang patut diapresiasi sebagai langkah yang “beradab” dari PLN, dibanding sebelumnya yang mengandalkan pemberitahuan lewat media radio.

Ini yang membuat informasi itu tidak akan pernah saya ketahui, karena selain tak jelas kapan pengumumannya atau di radio apa diumumkannya, saya juga tak memiliki radio. Dengar radio terakhir kapan saya juga lupa!

Kenapa PLN sampai mengambil langkah pemadaman bergilir yang diindikasikan akan terus berlangsung hingga setahun ke depan? Ternyata, minimnya psokan bahan bakar pembangkit listrik dan mulai bermasalahnya beberapa pembangkit yang sudah uzur adalah pangkal dari “bencana paceklik listrik” ini.

Dan PLN belum (tidak) bisa mengambil alternatif lain, selalin menghimbau agar konsumen mulai berhemat listrik. Turunannya, ya terjadilah pemadaman bergilir hingga memaksa kalangan usaha dan industri untuk mengalihkan jam kerja pada saat beban puncak ke hari Sabtu dan Minggu.

Namun, upaya ini ternyata belum optimal, karena PLN ternyata tetap kerepotan mengatur defisit setrum ini. Dan bisa dibayangkan jika seandainya krisis setrum ini tak segera berakhir, kita akan kembali ke jaman kegelapan. Apa yang bisa kita lakukan?

Ya, kata Aa Gym kita bisa memulainya dengan 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai darri saat ini juga. Untuk soal setrum ini, kita terkadang tidak cukup konsisten antara apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan.

Okelah, kita bisa mengatakan bahwa krisis ini adalah bagian dari ketidakbecusan pemerintah (PLN) dalam mengatur dan mengelola hajat hidup orang banyak. “Kita” berteriak lantang menyalahkan “mereka”. Padahal, permasalahan ini tidak selesai dengan klaim benar-salah, dan memisahkan “kita” dengan “mereka”. Sebenarnya kita ada di dalam permasalahan itu sendiri.

Maka, mari kita coba mulai bertindak konsisten untuk 3M tadi, sebagai salah satu upaya bersama untuk keluar dari krisis listrik ini.

Tindakan kita terkadang tidak mencerminkan kalau kita saat ini sedang berada di ambang krisis. Pemborosan energi untuk hal-hal yang sebenarnya kurang perlu. Saya juga terkadang masih melakukan itu (dan masih berupaya untuk insyaf).

Apa pentingnya coba saya menyalakan televisi di tengah malam? Kadang cuma sekedar mencari kesibukan gonta-ganti channel saja daripada mati gaya tak bisa tidur-tidur.

Atau menyalakan komputer, dapat satu dua baris ketikan, dan lantas ditingggalkan begitu saja tanpa mematikannya kembali.

Atau menyalakan lampu di siang hari, dengan excuse biar terang karena mau membaca koran. Padahal, kenapa juga tidak membaca koran di teras? Dan sembari baca koran, saya masih suka minum kopi panas dari hasil kerja dispenser yang terus-menerus “on” memanaskan air, tanpa berpikir untuk menyimpan air panas itu dalam termos sehingga tak perlu mamaksa dispenser menyala terus.

Kalau “rajin” sedang datang, saya masih suka mencuci selembar dua lembar baju dengan mesin cuci. Juga menyetrika dadakan kaos yang akan saya pakai saat itu.

Belum lagi, kadang saya masih memakai motor hanya untuk ke warung makan yang jaraknya tak sampai 200 meter. Sungguh pemborosan energi, pikir saya. Dan sayangnya, saya masih sekedar berpikir-pikir saja, belum bertindak!

Ini baru tindakan saya saja, dan baru sebagian kecil. Dan saya sangat-sangat yakin, banyak dari kita yang masih bertindak seperti kelakuan saya ini.

Mengutip kata seorang teman, kita seringkali berbicara hal-hal besar tapi tidak konsisten dalam bentuk tindakan kecil dan sederhana. Masih menurut dia, bahwa betul menurut Quran, selain refleksi dibutuhkan juga koreksi. Watawashaubil haq watawa shaubil shab. Selain ketahanan individu dibutuhkan juga ketahanan kelompok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: