Awas, Hati-hati Kepala Anda Kejatuhan Sampah Roket!

mirSetiap tiga pekan, 2 ton atau lebih “sampah langit” yang berupa bongkahan puing satelit dan serpihan roket berjatuhan tak terkontrol ke bumi. Demikian menurut analisa astronom Universitas Harvard yang memantau satelit dan puing luar angkasa.

Sedangkan menurut laporan Jonathan’s Space, 2 ton serpihan secara rutin menghujan bumi secara teratur. Salah satu laporanmenyebutkan seorang penduduk kota Tulsa, Amerika Serikat, tersambar serpihan kecil dari roket Delta di bahunya, tetapi beruntung “sampah” itu tidak melukainya.

Persaingan antarnegara yang berlomba menguasai ruang angkasa dengan meluncurkan berbagai wahana antariksa, ternyata meninggalkan rongsokan sampah hasil teknologi tinggi yang berupa satelit dan roket yang telah habis masa tugasnya. Puing dan serpihan tersebut bertebaran kian-kemari di luar angkasa sana. Tapi jangan dikira rongsokan penghuni alam langit itu diam saja, mereka terus mengorbit dengan kecepatan ekstra tinggi yang bisa membahayakan misi ruang angkasa oleh manusia dari Bumi.

Sampah antariksa yang jatuh ke bumi tersebut sempat membuat kekhawatiran tersendiri. Contoh paling baru adalah menjelang jatuhnya satelit BeppoSAX ke Bumi. Penduduk di wilayah yang diprakirakan menjadi tempat jatuhnya satelit astronomi sinar X itu, termasuk di Indonesia yang berada di wilayah khatulistiwa, dirundung ketakutan tertimpa pecahannya. Beruntung bangkai satelit yang telah berupa kepingan itu jatuh di Lautan Pasifik pada 30 April 2003.
Hingga kini belum ada cara buatan untuk membersihkan sampah antariksa. Mekanisme alam masih menjadi sandaran untuk membersihkan sampah itu, terutama untuk sampah di orbit rendah. Sebaliknya, tak ada satu pun mekanisme pembersihan untuk sampah di orbit GEO/GSO. Orbit inilah yang paling disesaki sampah antariksa, karena di sinilah satelit telekomunikasi dan pengamat cuaca berada.

Pernah ada upaya memulung sampah satelit yang gagal beroperasi. Itu pun dilandasi perhitungan ekonomi. Satelit itu didaur ulang setelah diambil, diperbaiki, lalu dijual kembali.

Satelit atau sampah antariksa yang jatuh ke Bumi akan semakin banyak dengan makin bertambahnya populasi wahana buatan manusia di antariksa. Pertambahan juga dipacu oleh tabrakan antarsampah antariksa. Data pantauan jaringan radar menunjukkan, rata-rata setiap 2 – 3 hari ada bekas satelit, roket, atau sampah antariksa lainnya yang jatuh ke Bumi. Benda berukuran besar, berbobot beberapa puluh ton rata-rata dua pekan sekali ada yang jatuh.

Masalah utama yang menjadi perhatian adalah lokasi jatuh dan waktunya. Orbit setiap satelit atau sampah antariksa pasti melewati ekuator, sehingga peluang jatuh di daerah ekuator sangat besar. Indonesia sebagai negara ekuator terbesar sangat potensial untuk kejatuhan. Namun tenang saja, sampai kini belum ada kejadian manusia yang terluka karena kejatuhan sampah antariksa itu. Alasannya, karena 70 persen permukaan bumi berupa air. Sehingga kemungkinan tersambar petir lebih besar daripada tertimpa serpihan satelit dan roket dari langit.

One response to this post.

  1. wah ke bayangnya yah…kalau ke depannya tidak ditanggulangi maka akan jadi masala pelik juga…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: