Konsisten untuk Tidak Konsisten (2)

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali menerima “surat cinta” dari PLN. Isinya, pemberitahuan pemadaman bergilir untuk bulan Agustus ini. Ini kali kedua jadwal giliran mati lampu ini saya terima, setelah yang pertama saya terima bulan Juni lalu.

Mungkin ini imbas dari saya yang dulu pernah ngedumel ke PLN karena sering kali tiba-tiba tanpa pemberitahuan, listrik di tempat saya padam. Pemberitahuan ini saya pikir sebagai langkah yang patut diapresiasi sebagai langkah yang “beradab” dari PLN, dibanding sebelumnya yang mengandalkan pemberitahuan lewat media radio.

Ini yang membuat informasi itu tidak akan pernah saya ketahui, karena selain tak jelas kapan pengumumannya atau di radio apa diumumkannya, saya juga tak memiliki radio. Dengar radio terakhir kapan saya juga lupa!

Kenapa PLN sampai mengambil langkah pemadaman bergilir yang diindikasikan akan terus berlangsung hingga setahun ke depan? Ternyata, minimnya psokan bahan bakar pembangkit listrik dan mulai bermasalahnya beberapa pembangkit yang sudah uzur adalah pangkal dari “bencana paceklik listrik” ini.

Dan PLN belum (tidak) bisa mengambil alternatif lain, selalin menghimbau agar konsumen mulai berhemat listrik. Turunannya, ya terjadilah pemadaman bergilir hingga memaksa kalangan usaha dan industri untuk mengalihkan jam kerja pada saat beban puncak ke hari Sabtu dan Minggu.

Selanjutnya

Rokok Haram?

Haramkah rokok? MUI bermaksud mengeluarkan fatwa untuk mengharamkan rokok, atas masukan dari beberapa pihak. Kira-kira bisa tidak ya, “manusia Indonesia” hidup tanpa asap tembakau?

Padahal setahu saya, ada beberapa ciri “manusia Indonesia” yang terkait dengan kebiasaan merokok. Antara lain, orang Indonesia itu merasa kurang lengkap jika setelah makan tidak ditutup dengan prosesi merokok. Beberapa teman saya bahkan tidak afdol jika (maaf) buang air besar tidak sembari merokok. Juga ada sebagian teman yang otaknya tumpul jika tidak melakukan pekerjaannya sambil merokok. “Jadi ga kreatif gua, ga bisa mikir” katanya. Entah apa hubungan antara kreatifitas dengan asap rokok.

Intinya, saya agak sukar membayangkan jika tiba-tiba di tanah air ini rokok jadi barang haram. Logikanya, barang haram tentu mengandung konsekuensi hukum bagi mereka yang memiliki, mengkonsumsi, mengedarkan, dan atau memproduksinya.

Berapa banyak teman saya yang bakal ditangkap polisi karena memiliki dan mengkonsumsi “barang haram” tersebut? Berapa banyak pedagang asongan dan pemilik warung-warung kecil yang omsetnya sebagian besar disumbang dari penjualan rokok akan diinterogasi pihak yang berwajib dengan tuduhan mengedarkan “barang haram” tersebut? Juga berapa banyak petani tembakau dan cengkeh serta pekerja pabrik rokok yang tiba-tiba jadi pengangguran karena pabrik mereka tutup karena melanggar hukum dengan memproduksi “barang haram”?

Selanjutnya

Lima Terlalu Sedikit, Sepuluh Terlalu Banyak

Saat TVRI tampil sebagai satu-satunya saluran televisi, banyak orang menganggap itu tak demokratis. Lantas muncullah RCTI (1989), SCTV (1990), TPI (1991), Anteve (1994), dan Indosiar (1995). Lima stasiun televisi swasta ini bisa mengudara memang didukung oleh faktor dekatnya sang pendiri dengan kekuasaan, sebagaimana lazimnya bisnis pada masa Orde Baru dengan Soeharto sebagai Big Boss-nya, dan Cendana sebagai “bau”nya.

RCTI dimiliki oleh Grup Bimantara (ada Bambang Trihatmojo di sana). TPI – kita semua tahu – didirikan oleh Siti “Tutut” Hardiyanti Rukmana. SCTV juga “berbau” Cendana, dengan pendiri seperti Sudwikatmono, Peter F. Gontha, Henry Pribadi, Halimah Bambang Triatmodjo, dan Azis Mochtar. Anteve milik Aburizal Bakrie, sedangkan Indosiar dikuasai Anthony Salim.

Era Reformasi kembali menumbuhkan lima televisi swasta nasional baru, di samping ada kebijakan untuk memberikan ijin bagi munculnya televisi lokal di daerah-daerah. Lantas mengudaralah secara nasional Metro TV, Global TV, Trans TV, TV7, dan Lativi.

Selanjutnya

Mendengar Koran, Menonton Radio, Membaca Televisi

Selalu saja berita duka. Selalu saja bencana. Apakah negeri ini memang ditakdirkan demikian? Semoga saja tidak. Tapi mengapa berita duka dan bencana yang selalu menghiasi koran, radio, dan televisi? Jika bukan alam yang membuat duka, manusianyalah yang membuat bencana. Jika alam membuat gempa bumi, banjir, longsor, tsunami, angin ribut, dan kawan-lawannya, manusia tak mau kalah menciptakan kerusuhan, pertikaian, peperangan, keributan, kelaparan, pembunuhan, korupsi, dan teman-temannya.

Apakah tidak ada waktu sejenak untuk berdamai? Berdamai dengan alam, berdamai dengan sesama? Tidak bosankah kita untuk terus hidup seakan berada di “negeri bencana” ini? Rasa-rasanya tak ada yang ingin untuk terus dalam situasi ini.

Negeri ini kaya. Negeri ini indah. Negeri ini makmur. Jika dan hanya jika kita mau dan mampu membuatnya demikian. Itulah sebenarnya yang selalu didambakan, oleh kita dan oleh orang-orang sebelum kita, para pendiri republik ini. Maka hadirlah slogan dan julukan Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kerta Raharja, Bhinneka Tunggal Ika, Zamrud Khatulistiwa, dan lain-lainnya. Apakah slogan itu kini hanya tinggal sekedar slogan saja?

Selamat hari Nyepi dan Tahun Baru Saka 1930. Shanti, shanti, shanti (damai, damai, damai). Dan semoga damai itu selalu ada bersama kita…

Awas, Hati-hati Kepala Anda Kejatuhan Sampah Roket!

mirSetiap tiga pekan, 2 ton atau lebih “sampah langit” yang berupa bongkahan puing satelit dan serpihan roket berjatuhan tak terkontrol ke bumi. Demikian menurut analisa astronom Universitas Harvard yang memantau satelit dan puing luar angkasa.

Sedangkan menurut laporan Jonathan’s Space, 2 ton serpihan secara rutin menghujan bumi secara teratur. Salah satu laporanmenyebutkan seorang penduduk kota Tulsa, Amerika Serikat, tersambar serpihan kecil dari roket Delta di bahunya, tetapi beruntung “sampah” itu tidak melukainya.

Persaingan antarnegara yang berlomba menguasai ruang angkasa dengan meluncurkan berbagai wahana antariksa, ternyata meninggalkan rongsokan sampah hasil teknologi tinggi yang berupa satelit dan roket yang telah habis masa tugasnya. Puing dan serpihan tersebut bertebaran kian-kemari di luar angkasa sana. Tapi jangan dikira rongsokan penghuni alam langit itu diam saja, mereka terus mengorbit dengan kecepatan ekstra tinggi yang bisa membahayakan misi ruang angkasa oleh manusia dari Bumi.

Selanjutnya

Bandung Recycle Bin

recycleBarang bekas pasti ada di sekitar kita. Di rumah, tempat kerja, atau di lingkungan rumah kita. Bagi yang ada di Bandung dan ingin membuang barang-barang bekas tersebut, bisa menghubungi alamat di bawah ini, siapa tahu barang-barang tersebut bisa dimanfaatkan…

Bandar Plastik
H. Aceng, Jl. Cigondewah
Rahmat, Jl. Cigondewah Rahayu no 48, Telp. 5407277
Eddy, Jl. Cigondewah Rahayu, Telp. 5423191
Udun, Jl. Cigondewah Kaler no. 20

Bandar Botol
Didi Sopandi, Jl. Cibolerang no. 151, Telp. 5409030
Tatang, Jl. Cikaso Timur no. 13 Telp. 7213510
Use, Jl. Inhoftank (depan no. 24) RT 07/06

Bandar Besi
Heri Mulyadi, Jl. Cijerah I no. 1
H. Suhanda, Jl. Cijerah no. 258
Apo Salim, Jl. Terusan Pasir Koja

Bandar Kardus
Deni, Jl. Cijerah no 33, Telp. 701986
Unus, Jl. Gg. Ibi Idoh RT 07/07 Husein Sastranegara Selanjutnya

Konsisten untuk Tidak Konsisten

tunggul

“Hanya dua bulan seusai menjadi tuan rumah Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim dan di tengah rentetan bencana ekologis, pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengijinkan pembukaan hutan lindung untuk pertambangan, pembangunan infrastruktur teleko- munikasi, energi, dan jalan tol dengan tarif sewa sangat murah, hanya Rp 120 – 300 per meter….” (Kompas, 20 Februari 2008).

Ya seperti itulah kebiasaan kita. Seolah-olah kita ingin konsisten untuk menjaga kelestarian alam dengan menjadi tuan rumah Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, tapi pada kenyataannya kita tak pernah konsisten untuk benar-benar menjaga alam kita. Konsisten untuk tidak konsisten!

Kita memang tidak pernah (atau tidak mau) belajar dari pengalaman. Kebijakan yang nyata-nyata tidak bijak terus saja diproduksi oleh pemerintah. Bencana ekologi yang muncul seakan tiada henti akhir-akhir ini ternyata belum cukup untuk membuat kapok pemerintah. Peraturan Pemerintah tersebut nyata-nyata menghina akal sehat dan sulit diterima nalar. Bayangkan, membuka lahan hutan lindung saja sudah sedemikian sembrono – apapun alasannya – ditambah lagi dengan harga sewa yang hanya 120 perak per meter, yang bahkan lebih murah dari harga sepotong gorengan! Selanjutnya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.